ARTSH

ARTSH

0 notes

State Fair! Tempat Makanan Unik Yang Menggiurkan

Semua orang pasti nggak asing lagi dengan yang namanya pameran (fair). Dan rupanya, bukan cuma di Indonesa aja ada pameran seperti Jakarta Fair gitu, tapi di USA juga ada!
Tapi, yang membedakan pameran di Indonesia dan disana adalah kalau disana disajikan ratusan makanan yang unik-unik banget! Dari mulai oreo digoreng sampai beef bacon dikasih coklat. Nggak kebayang ya rasanya gimana. Tapi ternyata oreo goreng alias deep fried oreo itu enak banget loh! Bikinnya juga gampang lagi. Tapi ini nggak boleh dimakan tiap hari, yang ada nanti bisa kena serangan jantung karena kelebihan kadar kolesterol. Hi!
Nah ini beberapa makanan yang membuat saya tertarik untuk mencoba.

1. Deep fried oreo

http://brightcove.vo.llnwd.net/d21/unsecured/media/1033249144001/1033249144001_2651766539001_fairfood-friedoreos.jpg?pubId=1033249144001

Ini adalah makanan pertama yang membuat saya tertarik untuk mencobanya. Meskipun yang saya buat tidak sebagus ini huhu. Tapi ini bener-bener enak banget! Wajib banget dicoba! Bikinnya juga gampang kok (sok banget). Tinggal beli tepung pancake, gula bubuk, margarin, oreo, sama minyak goreng. Lalu cara bikinnya gimana? Search di youtube aja guys, banyak resepnya hihi.

2. Deep fried snickers

http://s3-media3.ak.yelpcdn.com/bphoto/X6jOTvuf01TlP1SVFT5mlg/l.jpg

Ini adalah makanan kedua yang kepingin saya coba. Deep fried snickers! Untuk resep satu ini, saya belum sempat membuatnya huhu. Pasti kalian semua tahu snickers kan? Coklat dilapisi caramel dan kacang yang enak banget itu loh. Nggak kebayang kan kalo dia dibikin dalam adonan kayak di gambar terus ditaburin gula bubuk di atasnya. Hmmmm… pasti maknyus!

3. Doughnut bacon cheeseburger

image

Dan yang terakhir, doughnut bacon cheese burger! Jadi ini tuh cheese burger tapi roti burgernya digant glassy donut crispy creme. Oh iya, jangan lupa di dalemnya ditambahin bacon juga. OMG! Pasti yummy banget. Nggak kebayang perpaduan rasa asin dan manis jadi satu. Hmm… Me want this! Tapi impossible kayaknya ada di Jakarta huhuhu.

Itulah beberapa dari ratusan makanan unik yang disajikan di state fair. Pengen banget suatu saat bisa ke USA dan waktu lagi ada state fair. Pasti gue bakal excited banget dan siap-siap timbangan geser ke kanan dalam sehari! PFFT

Sekian tulisan saya! Kalau pada penasaran, silahkan bukan youtube dan masukkan keyword state fair! Dijamin bakal ngiler liat makanannya :d

0 notes

Lebih Dari Cukup

Kamu mambuatku buta oleh apa adanya dirimu. Senyummu membiusku, suaramu menggelitik hatiku, dan tatapan matamu membuatku lupa diri.

Wajahmu tidak tampan, kamu bukan seorang bintang. Pakaianmu biasa saja, penampilanmu juga seadanya. Namun ada sesuatu mengenai kamu yang tidak aku temui
di kaum adam manapun. Rasa nyaman dan kesederhanaan.

Di saat aku harus menjaga image di depan mereka, di hadapanmu aku bebas menjadi diri sendiri. Kamu adalah sosok yang sebenarnya aku cari. Namun aku bukanlah yang engkau cari.

Aku tidak pernah (bahkan tidak mungkin) memilikimu. Selamanya kamu hanya bisa menjadi orang yang membuatku tersenyum saat bersedih dan tertawa saat menangis. Namun aku tidak menyesalinya. Karena mengagumimu dari jauh sudah cukup bagiku.

Dan bisa mengenalmu… adalah hadiah terindah dalam hidupku.

0 notes

Semua orang pasti pernah bermimpi dan menginginkan sesuatu dalam hidupnya. Yap, begitu pula denganku. 
Kalian lihat gambar di atas? Itulah salah satu dari sekian banyak mimpiku. Bila memang Tuhan berkenan dan takdir berkata iya, aku ingin sekali bisa tinggal disana. Mungkin bukan sekedar tinggal, tapi juga menuntut ilmu.
Pasti ada rasa puas tersendiri bisa melepas penat dari hirur pikuknya ibukota. Pergi meninggalkan rutinitas monoton dan mencoba sesuatu yang baru. Tapi bukan sekarang juga hal itu dilakukan, melainkan nanti bila kewajibanku sudah selesai.  When there’s a wheel, there’s a way,  bila ada kesempatan pasti ada jalan. Sampai bertemu nanti kota impianku! Semoga ini bukan sekedar mimpi anak muda di siang bolong.

Semua orang pasti pernah bermimpi dan menginginkan sesuatu dalam hidupnya. Yap, begitu pula denganku.
Kalian lihat gambar di atas? Itulah salah satu dari sekian banyak mimpiku. Bila memang Tuhan berkenan dan takdir berkata iya, aku ingin sekali bisa tinggal disana. Mungkin bukan sekedar tinggal, tapi juga menuntut ilmu.
Pasti ada rasa puas tersendiri bisa melepas penat dari hirur pikuknya ibukota. Pergi meninggalkan rutinitas monoton dan mencoba sesuatu yang baru. Tapi bukan sekarang juga hal itu dilakukan, melainkan nanti bila kewajibanku sudah selesai.
When there’s a wheel, there’s a way, bila ada kesempatan pasti ada jalan. Sampai bertemu nanti kota impianku! Semoga ini bukan sekedar mimpi anak muda di siang bolong.

0 notes

Untuk Mereka

    Mereka yang berada di sana memiliki tingkah laku yang beraneka ragam. Ada yang berjalan-jalan kesana kemari dan berbicara meracau, ada yang diam saja dan mematung dengan tatapan datar, ada juga yang mengamuk dan berteriak-teriak hingga membuat para suster sibuk bukan kepalang mengikatnya.
    Siapakah mereka? Ya, mereka adalah para penderita skizofrenia. Sebuah penyakit yang disebabkan oleh luka batin, akibat pahitnya kehidupan.
    Mungkin orang yang hidupnya bahagia tidak akan menyadari kehadiran mereka, mungkin orang-orang yang tidak pernah merasakan pedihnya hidup tidak akan memiliki rasa simpatik terhadap mereka. Bahkan mungkin orang-orang itu akan mengolok-olok mereka, menganggap remeh dengan sebelah mata.
   Mereka bukanlah orang gila yang patut untuk dijauhi, melainkan untuk diberi dukungan agar bisa lepas dari hendayanya. Mereka bukan untuk dianggap remeh, namun untuk dikasihani. Ya, mereka adalah orang-orang yang tidak tahan dengan kerasnya roda kehidupan, orang yang berharap lebih kepada realita dan orang yang selalu dikecewakan oleh sesamanya.
    Mereka adalah orang-orang yang memiliki masalah yang berat dan tidak mampu memikulnya. Dukungan orang-orang dari sekitar sangat diperlukan olehnya. Mereka berhak untuk sembuh, karena masih banyak cerita indah di kehidupan yang belum mereka mulai.
    Hati tergerak ingin terjun ke dalam dunianya, namun tantangan besar akan mimpi itu terlalu sulit untuk dilalui. Diri rasanya tidak mampu untuk melewatinya. Karena terlalu banyak keterbatasan yang dimiliki.

0 notes

Cerpen : Sebelum Aku Mati (part 2)

Aku duduk termenung di lorong rumah sakit. Tidak ada siapapun lagi disana karena jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi.
Hanya satu keinginanku untuk saat ini, aku ingin hidup kembali. Aku tidak mau mati konyol hanya karena tidak bisa menerima kenyataan hidup.
Seorang wanita berjubah putih menghampiriku dan duduk di sebelahku. Rambutnya panjang sepunggung dan karakternya lemah lembut. Ia mengelus rambutku pelan sambil berucap, “Dalam hidup ini, tidak semua yang kamu inginkan bisa menjadi kenyataan. Karena kamu bukan hidup bersama robot, melainkan bersama manusia yang juga memiliki harapan dan mimpinya sendiri.”
Seketika itu juga aku tersadar. Bila mementingkan impianku, berarti aku ini orang yang egois. Aku berarti harus bisa menerima kenyataan, bukan malah menangisi keadaan.
Aku pun menyesal amat sangat karena keluar rumah malam itu. Seharusnya, aku menghampiri kedua orang tuaku dan melerai mereka. Apalagi mengingat usiaku yang sudah tergolong dewasa. Usia 23 tahun bukanlah disebut ABG lagi.
Dan untuk soal Arya, ia memiliki harapan dan mimpinya sendiri. Aku tidak bisa menuntut agar dia berbuat seperti apa yang aku inginkan. Biarlah nanti dia kena karma sendiri atas perbuatan yang dilakukan olehnya.
Tapi, aku tetap ingin hidup lagi. Aku ingin memperbaiki hidupku dan merubahnya menjadi lebih baik. Semua kejadian pahit ini ingin aku hapus dan isi dengan cerita baru yang lebih berwarna.
Aku tidak mau melihat Ibuku menangis terus-menerus seperti tadi. Masalah yang dihadapinya sudah cukup banyak, aku tidak mau menambahnya hanya karena tidak kuat iman dan tidak bisa menerima kenyataan.
Aku pun menangis dan memeluk wanita berambut panjang itu, ia pun menenangkanku, “Tidak usah menangis, kamu masih diberi kesempatan untuk hidup oleh Tuhan.”
Wanita itu melepas pelukannya dariku, kemudian ia tersenyum, “Operasimu berjalan lancar, sepupumu mau mendonorkan darahnya untukmu. Kamu sebentar lagi akan pulih dan bisa pulang ke tubuhmu. Semoga setelah kejadian ini kamu lebih dewasa dalam menghadapi masalah. Selamat tinggal.” Ia pun berdiri dari tempat duduk dan berjalan menelusuri lorong ini.
Aku berjalan memasuki ruangan ICU menuju tempat tubuhku terbaring. Seutas senyum puas tersungging di wajahku.

***
Aku terbangun dan mendapati kertas-kertas origami berserakan di sekelilingku.
Rupanya, aku berada di kamarku sendiri. Tidak ada jarum infus di tanganku, apalagi selang-selang yang memenuhi tubuhku. Aku memandang ke luar jendela dan melihat jam di dinding kamarku. Jam masih menunjukkan pukul 9 pagi.
Ibuku membuka pintu kamar dan mulai berceloteh seperti biasa, “Anak gadis kok bangunnya siang amat. Sarapan sana! Mama udah bikin nasi goreng. Abis itu bantu mama cuci piring ya.” ujarnya sambil menghisap rokoknya.
Aku membereskan kertas origami yang berserakan di tempat tidurku. Kertas yang sudah aku tulisi impian kurobek dan kubuang ke tong sampah.
Aku bengong dan menampar kedua pipiku. Sakit. Berarti… Ini bukan mimpi.

0 notes

Cerpen : Sebelum Aku Mati (Part 1)

Lorong sepi ini menjadi saksi bisu kegundahan perasaan. Vonis seorang pria berjaket putih membuat pikiran dan hati semakin porak poranda. Bagaimana tidak? Hembusan nafas ini tidak lagi bisa dihitung ratusan hari, melainkan hanya sekian minggu.
Tugasku di dunia belum selesai. Masih banyak mimpi yang belum aku capai, dan terlalu banyak rahasia yang belum terungkap. Tapi aku percaya vonis manusia bisa meleset, karena Tuhan yang memiliki andil di dunia ini.
Masalahku di dunia belum terselesaikan, impian yang aku tulis dan tempel di dinding kamarku juga belum ada yang tercoret. Semuanya klise, hidupku masih terlalu datar untuk saat ini.
Aku berjalan menghampiri Ibuku yang menangis di lorong sepi ini. Aku memanggilnya dan memegang pundaknya. Namun apa yang terjadi? Ia sama sekali tidak mendengar suaraku, tangan ini juga tidak bisa menggapai pundaknya.
Aku mencoba memanggil sahabatku yang sedang menatap nanar ke ruangan jendela ICU di depanku. Ia juga tidak mendengar suaraku. Aku pun berteriak sekencang-kencangnya. Tapi ia tidak juga menoleh ke arahku. Sebenarnya ada apa denganku? Kenapa semua orang tidak menyadari kehadiranku?
Aku pun ingin tahu apa yang sedang sahabatku lihat di balik jendela ruang intensif itu. Aku menghampirinya dan ikut mengintip ke dalam. Ternyata aku sedang terbaring di sana dalam keadaan tidak sadar. Badanku dipenuhi selang di sana sini.
Aku membuka pintu ruang ICU dan menghampiri diriku yang terbaring tidak berdaya itu. Aku mencoba untuk memasuki tubuhku, namun usahaku sia-sia. Aku malah terguling dan jatuh ke lantai.
Aku menatap tubuhku yang terbaring tidak berdaya. Baru saja kemarin aku bercanda tawa dengan teman-temanku di kampus. Tapi kenapa sekarang aku terbaring seperti ini di sini?
Aku mencoba mengingat apa kejadian yang menimpaku.

***

3 hari yang lalu

Aku duduk manis di atas tempat tidur dengan kertas origami yang berceceran dimana-mana. Aku mulai menulis daftar impianku sebelum aku mati. Impianku tidak muluk-muluk, tidak membutuhkan biaya dan energi. Aku hanya menginginkan kebahagiaan yang sejati. Kebahagiaan karena aku bisa mendapakan apa saja yang aku inginkan.
Aku ingin ketika memasuki pintu rumah, aku tidak harus melihat Ibuku menangis di ruang TV sambil menghisap rokoknya. Ibuku yang setiap menyadari kehadiranku akan menceritakan keluh kesahnya mengenai Ayahku yang tega menduakan dia. Aku yang setiap mendengar itu hanya bisa menenangkan Ibuku dan berlagak tidak peduli terhadap masalah Ayah. Semua itu aku lakukan hanya agar Ibuku merasa lega dan tidak sakit-sakitan karena stress.
Aku ingin ketika melihat ponsel, nama Arya tertera di sana mengucapkan kata maaf kepadaku. Aku tidak ingin ia menjadikanku bahan taruhan karena tahu bahwa aku tergila-gila kepadanya.
Aku ingin ketika aku memasuki ruangan kelas, aku tidak harus mendengar ejekan sana sini karena tubuhku yang gemuk dan tidak menarik. Aku tidak harus dianggap remeh sana sini karena aku berbeda dengan teman-teman wanitaku yang cantik.
Aku ingin bisa menerima kenyataan bahwa Arya hanya melihatku seperti melihat monyet di hutan dan memilih wanita lain yang cantik layaknya permaisuri. Bahkan wanita itu juga menyukai dia dan mungkin sebentar lagi mereka akan menjalin cinta.
Aku ingin cita-citaku menjadi seorang akuntan yang sukses tercapai.

Hanya itu yang aku inginkan, tidak begitu muluk-muluk.

Setelah selesai menulis daftar impianku, aku menempelkannya di dinding dan menulis tanggal hari ini.
PRANG! Suara piring pecah menganggu indera pendengaranku. Teriakan Ibuku yang mengelegar membuyarkan lamunanku. Dengan sigap aku pun segera keluar kamar dan melihat pemandangan yang selalu menyesakkan perasaanku. Ayah Ibuku bertengkar hebat dan akan segera bercerai.
Tanpa sepengetahuan mereka, aku segera mengambil tas dan kunci mobilku di atas meja. Jam menunjukkan pukul 12 malam saat itu, namun aku tidak peduli. Aku segera menelepon sahabatku Lora dan ingin menginap di apartemennya.
Sepanjang jalan, pandanganku dibuyarkan oleh air mata yang kemudian menetes dengan derasnya di kedua pipiku. Aku diklakson sana sini karena menyetir mobil tidak karuan. Aku menginjak pedal gas semakin dalam. Angka di speedometer berada di 150 km/jam dan semakin melonjak naik. Jalanan bebas hambatan ini sepi dari kendaraan karena waktu sudah larut malam.
Betapa kagetnya aku melihat sebuah truk besar hanya tinggal beberapa senti di hadapanku. Aku pun langsung membanting stir ke kanan dan ternyata ada mobil di jalur sebelah. Mobilku seketika itu juga melayang di udara, seluruh tubuhku terbentur sana sini, airbag yang mengembang di kursi pengemudi malah membuatku sesak dan aku tidak tahu lagi apa yang terjadi setelah itu.
Tiba-tiba aku terbangun di ruangan intensif ini. Aku menduduki tubuhku sendiri dan tidak bisa memasukinya. Aku pun keluar dari ruangan ini dan mendapati Ibuku sedang berbicara dengan dokter. Dokter tersebut mengatakan bahwa hidupku tinggal satu minggu lagi, namun bila dioperasi mungkin akan lebih lama lagi. Tetapi operasi tersebut juga keberhasilannya kecil.
Aku tidak mau mati bila impianku belum terwujud. Aku ingin melihat kedua orang tuaku rujuk, aku ingin Arya menyadari kehadiranku dan mengakui perbuatan jahatnya kepadaku. Aku juga ingin menjadi akuntan yang sukses. Aku tidak akan bisa mati dengan tenang karena belum merasa puas dengan hidupku.

Bersambung