ARTSH

ARTSH

0 notes

Great Times

Entah kenapa sore ini tiba-tiba gue lagi pengen nulis tentang great times in my life. Intinya sih, ketika lo ada di puncak paling bahagia dalam hidup lo, jangan pernah lo sia-siain. Agak lebay sih memang, tapi ini bener-bener berasa banget setelah gue sudah mau lulus dan koas sebentar lagi.
The thing is… I miss my old times. Itulah kata-kata familiar yang selalu banyak orang lontarkan ketika masuk ke dalam fase paling tidak nyaman dalam hidupnya. Jujur aja, rasanya gue masih pengen main-main sama orang-orang yang bikin gue nyaman, tapi sayangnya, times change, we most go on. Kita nggak mungkin stuck di satu titik doang selamanya, harus maju ke tingkatan yang lebih tinggi.
The first thing is… Gue kangen masa-masa semester 6, masa-masa kumpul bareng sama MIKI dan jalan-jalan dadakan sama mereka. Di situ gue bener-bener lupa sama kata sedih. Kerjaan gue jalan-jalan terus, menikmati hidup. Sayangnya, masa itu nggak akan pernah bisa kembali. Karena setiap orang harus berkembang dan menjalani hidup mereka masing-masing di masa depan. 

Hal yang sedih kedua… Gue nggak kuliah bareng sahabat-sahabat gue lagi. Biasanya tiap pagi udah ada yang nge-PING tanyain gue lagi dimana, kalo gue cabut pasti gue ditanyain kenapa nggak masuk, kalo istirahat dan jam kosong pasti kita keluyuran cari makan di daerah sekitar kampus. Kenapa kita pisah? Well, kayak yang gue bilang, kita semua pada akhirnya punya jalan masing-masing. Kebetulan minat gue sama mereka nggak sama, jadinya gue terdampar di kelas yang berbeda sama mereka. Biarpun kita masih bisa ketemu, tapi tetep aja semuanya nggak sama kayak dulu. Nggak ada yang nge-PING-in gue tiap pagi, nggak ada yang nanyain jalan tol jagorawi macet atau nggak. Semuanya bener-bener bakal beda banget. Biarpun gue tinggal satu bulan lagi di kelas ini, tapi setelah itu gue akan koas dan keadaan akan jauh lebih berbeda lagi. 
Hal yang sedih ketiga… Gue nggak kuliah satu angkatan kayak dulu. Well, kadang kita bakal kuliah seangkatan sih kalo lagi pelajaran agama, tapi tetep aja beda banget sama dulu. 
Banyak banget yang berubah belakangan ini. Dan jujur aja, gue pengen my old times back. 

0 notes

Sebuah Mimpi atau Pertanda?

Pagi ini aku terbangun dengan perasaan yang tidak enak. Hal yang tidak pernah aku pikirkan lagi tiba-tiba singgah di mimpiku semalam. Well, dalam mimpi itu, aku bertemu dengan seseorang yang sudah lama sekali aku lupakan.
Entah hanya sebuah mimpi atau sebuah pertanda. Tapi aku tidak merasakan apa-apa lagi untuknya. Hanya kadang kenangan saja yang menganggu pikiran ini setiap melewati tempat yang pernah kita lewati. Cuma itu, tidak lebih, tidak ada lagi harapan, tidak ada lagi rasa.
Lalu mengapa ia muncul di mimpiku? Kata orang, bila seseorang yang singgah di mimpi kita berarti orang tersebut kita pikirkan. Namun untuk kasusku sepertinya tidak. Mungkin hanya kebetulan saja ia singgah dalam mimpi.

0 notes

Maaf?

Trauma masa lalu adalah musuh terbesar untuk sebagian orang. Dicampakkan, diolok-olok, dan dianggap remeh merupakan rangkaian kejadian yang secara tidak disadari dapat membentuk karakter seseorang.
Kebanyakan orang memiliki dendam terhadap masa lalunya. Karena sering dianggap remeh dan diolok-olok, beberapa orang mengubah penampilan mereka dan memperlihatkan kepada dunia bahwa mereka sekarang hebat. Ada juga beberapa orang yang memilih untuk cuek terhadap lingkungannya karena pernah tidak dihargai ketika peduli.
Kita tidak bisa menyalahkan mereka atas trauma itu. Itu adalah bentuk sakit hati dari perlakuan orang sekitarnya terhadap mereka. Memang ada pepatah bilang kalau kita harus bisa memaafkan, namun sayangnya beberapa orang tidak mudah memaafkan semudah itu sebelum mereka puas karena telah membuat orang yang menyakitinya bertekuk lutut.
Saya pribadi malah kasian kepada mereka, terutama mereka yang dicampakkan. Maka tidak heran bila banyak yang operasi plastik dan menjadi sombong, karena hanya. dengan cara itu dendam mereka dapat terbalaskan. Bila dendam terbalas, pasti ada perasaan puas tersendiri nantinya.
Maka itu, saya belajar untuk tidak terlalu banyak berharap, tidak terlalu menyayangi orang lain, dan tidak terlalu baik hingga dapat dibodohi. Karena apapun yang terlalu itu merupakan boomerang untuk diri kita sendiri. Apalagi bila yang didapatkan tidak sesuai pemberian. Kecewa dan sakit hatinya bukan main.

0 notes

Well, good morning people. Di pagi yang mendung ini, saya terinspirasi untuk menulis makna take and give menurut saya.
Kalau menurut saya pribadi, apa yang kita tabur itu pula yang kita tuai. Jadi istilahnya, kalau kita berbuat jahat sama seseorang, kejahatan pula yang akan kita terima. 
Dalam hidup ini, saya belajar untuk hanya memberi kepada orang yang tepat. Orang-orang itu adalah yang baik kepada saya, menyayangi saya dengan tulus, dan selalu ada di samping saya baik dalam suka dan keterpurukan. Saya tidak suka dengan orang-orang yang hanya mau menerima enaknya saja. Orang yang hanya bisa menerima tanpa memberi.
Jadi, bila orang jahat kepada saya, saya akan jahat juga kepadanya. Bila orang cuek kepada saya, saya akan cuek pula. Bila orang membuat saya sakit hati, saya tidak akan membuatnya bahagia. Namun bila orang baik terhadap saya, saya juga akan baik terhadapnya. Istilahnya api dibalas dengan api, supaya adil.

Well, good morning people. Di pagi yang mendung ini, saya terinspirasi untuk menulis makna take and give menurut saya.
Kalau menurut saya pribadi, apa yang kita tabur itu pula yang kita tuai. Jadi istilahnya, kalau kita berbuat jahat sama seseorang, kejahatan pula yang akan kita terima.
Dalam hidup ini, saya belajar untuk hanya memberi kepada orang yang tepat. Orang-orang itu adalah yang baik kepada saya, menyayangi saya dengan tulus, dan selalu ada di samping saya baik dalam suka dan keterpurukan. Saya tidak suka dengan orang-orang yang hanya mau menerima enaknya saja. Orang yang hanya bisa menerima tanpa memberi.
Jadi, bila orang jahat kepada saya, saya akan jahat juga kepadanya. Bila orang cuek kepada saya, saya akan cuek pula. Bila orang membuat saya sakit hati, saya tidak akan membuatnya bahagia. Namun bila orang baik terhadap saya, saya juga akan baik terhadapnya. Istilahnya api dibalas dengan api, supaya adil.

0 notes

Lembaran Pertama Di Bulan Januari

Terkadang, aku berharap sebuah cahaya terang menjemputku di ujung sana. Menuntun aku keluar dari lorong gelap yang sedang aku jalani ini. Ya, aku terjebak dalam simalakama yang serupa dengan lorong tanpa penerangan.
Simalakama itu adalah hal sepele. Mencintai orang diam-diam dan hanya mampu mengaguminya dari kejauhan. Ini adalah makanan sehari-hari untukku, tapi entah mengapa kali ini aku mulai tersiksa karenanya. Ternyata, menyayangi orang tanpa bisa mengungkapkan kepadanya adalah hal yang menyakitkan. Mungkin biasa saja bagi sebagian orang, tapi cukup menyakitkan bagiku.
Berperang dengan perasaan sendiri bukanlah hal yang mudah. Kita akan tersiksa dibuatnya. Setiap aku bertemu dengannya, banyak sekali yang ingin aku ungkapkan. Namun sayangnya, hal itu tidak mungkin aku lakukan. Aku memilih untuk bungkam ketimbang menjadi musuh seumur hidupnya.
Beribu-ribu kali aku meyakinkan diriku bahwa dia tidak berarti apa-apa. Tapi apa daya, hati ini berkata sebaliknya. Rasa cinta itu masih saja tertinggal disini, ia tidak mau pergi meskipun sudah ratusan hari terlewati. Ratusan hari tanpa ungkapan sayang, juga tanpa balasan apa-apa darinya.
Saat ini aku tidak bisa berbuat apa-apa kecuali berharap Tuhan akan menghilangkan rasa itu untukku. Karena aku sudah lelah mengaguminya dari jauh. Cukup sudah segala kekecewaan dan sakit hati yang aku terima selama ini. Aku hanya ingin mendapatkan kebahagiaan dari orang yang benar-benar tulus mencintaiku. Bila aku sudah menemukan orang yang tulus itu, aku pasti akan ikhlas melepas masa laluku. Aku pasti bisa menghapus bayangnya dari memoriku.
Aku berharap Tuhan mendengar doaku dan mengerti bahwa aku sudah tersiksa karena rasa ini. Aku percaya Tuhan akan memberikan kado terindah untukku di waktu yang tepat. Kali ini, bukan dia yang aku mau sebagai kadoku seperti ratusan hari belakangan ini. Namun orang lain yang tulus dan pantas menerima ketulusanku.